Kemunculan nama Yenny Wahid yang akan diusung oleh koalisi Gerindra, PKS dan PAN di Pilgub Jawa Timur dalam dua hari terkahir mendapat sambutan luar biasa. Ini berarti seolah menjawab kerinduan para Gusdurian yang menginginkan kembalinya titisan Gus Dur dalam pentas politik.
Selama ini Yenny Wahid memang menjadi pihak yang terpental dalam menghadapi perebutan Kepemimpinan PKB oleh keponakan Dus Dur, Muhaimin Iskandar. Meski secara hukum Yenny kalah melawan Cak Imin, tetapi semua orang tahu siapa yang melahirkan PKB. Karena secara politik kaum Nahdliyin punya kendaraan PKB maka meski dipimpin Cak Imin, mereka menjadikannya PKB seagai rumah politiknya kaum Nahdliyin. Tapi banyak juga kyai yang membebaskan kaumnya kemana mereka suka, sesuai dengan Khittah NU 1926.
Bukan itu saja, kehadiran Yenny Wahid di jagat Pilkada Jatim, meski baru dipinang –dan belum tentu jadi— sudah cukup memberi angin segar. Ada orang Jatim berkata, “masa’ sih Gus Ipul melulu sudah dua perode jadi wakil di jatim.” Juga masa’ Khofifah melulu yang dulu kalah merebut Jatim satu melawan Pak De Karwo? Kini jawabannya makin jelas, inilah darah segar Yenny Wahid maju di panggung politik untuk mengayomi tiga kekuatan dasar di Jawa Timur.
Masyarakat santri
Jawa Timur adalah masyarakat santri. Secara sosiologis maupun antropologis, versi Clifford Geertz dalam buku The Religion of Java, masyarakat Jawa Timur terdiri dari tiga kekuatan besar golongan yakni golongan santri, priyayi dan kaum abangan.
Golongan santri adalah mereka yang tingkat keberagamaannya relatif baik karena mereka mengaji kepada guru atau kyai. Sedikit yang berpendidkan tinggi di perkotaan. Kebanyakan di kampung-kampung dan sangat taat pada apa kata kyai atau pemimpin informal. Mereka ini tergabung dalam kelompok nahdliyin atau orang-orang NU.
Di luar itu ada kaum priyayi. Mereka adalah kaum bangsawan yang kebanyakan memimpin pemerintahan. Mereka ini dikenal juga kaum nasionalis sekuler, yaitu orang-orang yang berpandangan sekuler, sehingga tingkat keberagamaannya hanya sekadarnya saja, bahkan cenderung memisahkan agama dari negara/politik. Mereka lebih rasional dan sikapnya ditentukan oleh apa yang ada dalam perkembangan pemikiran mereka saat itu.
Golongan ketiga adalah golongan abangan. Oleh Geertz, mereka dikelompokkan sebagai masyarakat yang kurang memiliki pengetahuan tentang ajaran agama, bahkan bisa dianggap sebagai muslim awam yang berasal dari desa. Di bidang politik, mereka hampir sama dengan kalangaan santri yang cenderung mengikuti apa kata pemimpin informal.
Kaum Gusdurian
Sementara itu di kalangan masyarakat kita juga ada kelomok lain yang lebih luas cakupannya. Mereka ini adalah kaum Gusdurian. Mereka adalah pengikut Gus Dur, yang terdiri kalangan santri, kaum nasionalis agamis maupun sekuler serta kaum abangan bahkan non muslim juga banyak.
Mereka inilah yang sepakat dengan pemikiran pluralisme Gus Dur yang ia kembangkan berpuluh-pluh tahun lamanya hingga menjadi oposisi di zaman Soeharto. Tapi Gus Dur tetap menjaga silaturahmi kepada siapapun. Pemikirannya diterapkan ketika Gus Dur menjadi Presiden tahun 1999-2001. Kini pemikiran itu juga diusung Yenny Wahid, putrinya. Ia menjadi pengayom semua golongan masyarakat yang multi kultur.
Pandangan pluralisme Gus Dur itu saat ini sepertinya menjadi mazhab baru yakni politik pluralisme kerakyatan. Orang-orang non muslim sangat setuju dengan pemikiran Gus Dur, karena mereka menjadi merasa ada di dalam bingkai NKRI. Coba saja cek di daerah dimana ummat non muslim lebih menonjol, kebanyakan rakyatnya mengagung-agungkan Gus Dur. Kalau di kalangan santri gak usah ditanya, pasti membela Gus Dur.
Di kalangan mereka justeru berlaku “opo jare Gus Dur, sah.” Maksudnya adalah, apapun yang dikatakan Gus Dur adalah benar adanya, termasuk di dalam ijtihad politiknya. Karena di kalangan nahdliyin, Gus Dur adalah tetesan darah dari Hadratusyaich Hasyim Asy’ary sang pendiri NU, dan Gus Dur selama ini juga dianggap sebagai wali yang memiliki ilmu sangat tinggi. Meski pandangan mata fisiknya terganggu, tetapi secara mata batin dan akal fikirannya mampu membaca apa yang tidak bisa dibaca orang awam. Ramalan-ramalannya relatif banyak benarnya daripada tidak benarnya.
Karena Gus Dur dianggap sebagai wali, maka dalam tradisi NU ada etika santri yang lazim berlaku yakni ta’dzim (hormat) terhadap guru dan keluarganya. Kalau kita menghormati Gus Dur sebagai kyai ataupun wali, maka kita juga harus menghormati anak dan keturunanya. Itulah sebabnya ada panggilan Gus sebagai bagian dari tata krama menghormati anak seorang kyai yang sangat dihormati.
Suara Gusdurian
Maka, jika benar data yang disampaikan Sekretaris DPW PAN Jatim, Basuki Babussalam, bahwa di Jatim terdapat 83 persen Gusdurian, maka pertanyaannya adalah kemana larinya suara mereka pada Pilgub Jatim 2018.
Kita bisa berandai-andai, jika pemikiran di atas benar adanya, dalam arti kebanyakan masyarakat hormat kyai dan anak cucunya, maka Yenny Wahid adalah pilihannya, bukan Gus Ipul, apalagi Khofifah.
Persoalnnya kemudian adalah kemana para kyai berlabuh. Pastinya ini akan menjadi pertarungan yang menarik di antara para kyai. Maka kalau mau fair, jangan ada yang mencoba membeli kyai untuk dukungan politik. Jika itu terjadi maka selesailah sudah kharisma kekyaiannya. Wallahu a’lam.
Syaefurrahman Al-Banjary
Gambar sampul:
1. Yenny Wahid (portal Islam).
2. Prabowo, Yenny Wahid, dan mertua Yenny usai pertemuan 26 Desember 2017 (Posjaya.com).
3. Gusdurian, ilustrasi (Indonesia times).
Sumber : UC News
Selama ini Yenny Wahid memang menjadi pihak yang terpental dalam menghadapi perebutan Kepemimpinan PKB oleh keponakan Dus Dur, Muhaimin Iskandar. Meski secara hukum Yenny kalah melawan Cak Imin, tetapi semua orang tahu siapa yang melahirkan PKB. Karena secara politik kaum Nahdliyin punya kendaraan PKB maka meski dipimpin Cak Imin, mereka menjadikannya PKB seagai rumah politiknya kaum Nahdliyin. Tapi banyak juga kyai yang membebaskan kaumnya kemana mereka suka, sesuai dengan Khittah NU 1926.
Bukan itu saja, kehadiran Yenny Wahid di jagat Pilkada Jatim, meski baru dipinang –dan belum tentu jadi— sudah cukup memberi angin segar. Ada orang Jatim berkata, “masa’ sih Gus Ipul melulu sudah dua perode jadi wakil di jatim.” Juga masa’ Khofifah melulu yang dulu kalah merebut Jatim satu melawan Pak De Karwo? Kini jawabannya makin jelas, inilah darah segar Yenny Wahid maju di panggung politik untuk mengayomi tiga kekuatan dasar di Jawa Timur.
![]() |
| Putri Gus Dur, Yenny Wahid (Portal Islam) |
Masyarakat santri
Jawa Timur adalah masyarakat santri. Secara sosiologis maupun antropologis, versi Clifford Geertz dalam buku The Religion of Java, masyarakat Jawa Timur terdiri dari tiga kekuatan besar golongan yakni golongan santri, priyayi dan kaum abangan.
Golongan santri adalah mereka yang tingkat keberagamaannya relatif baik karena mereka mengaji kepada guru atau kyai. Sedikit yang berpendidkan tinggi di perkotaan. Kebanyakan di kampung-kampung dan sangat taat pada apa kata kyai atau pemimpin informal. Mereka ini tergabung dalam kelompok nahdliyin atau orang-orang NU.
Di luar itu ada kaum priyayi. Mereka adalah kaum bangsawan yang kebanyakan memimpin pemerintahan. Mereka ini dikenal juga kaum nasionalis sekuler, yaitu orang-orang yang berpandangan sekuler, sehingga tingkat keberagamaannya hanya sekadarnya saja, bahkan cenderung memisahkan agama dari negara/politik. Mereka lebih rasional dan sikapnya ditentukan oleh apa yang ada dalam perkembangan pemikiran mereka saat itu.
Golongan ketiga adalah golongan abangan. Oleh Geertz, mereka dikelompokkan sebagai masyarakat yang kurang memiliki pengetahuan tentang ajaran agama, bahkan bisa dianggap sebagai muslim awam yang berasal dari desa. Di bidang politik, mereka hampir sama dengan kalangaan santri yang cenderung mengikuti apa kata pemimpin informal.
![]() |
| Prabowo, Yenny Wahid dan mertuanya usai pertemuan 26 Desember 2017 (foto: Posjaya.com). |
Kaum Gusdurian
Sementara itu di kalangan masyarakat kita juga ada kelomok lain yang lebih luas cakupannya. Mereka ini adalah kaum Gusdurian. Mereka adalah pengikut Gus Dur, yang terdiri kalangan santri, kaum nasionalis agamis maupun sekuler serta kaum abangan bahkan non muslim juga banyak.
Mereka inilah yang sepakat dengan pemikiran pluralisme Gus Dur yang ia kembangkan berpuluh-pluh tahun lamanya hingga menjadi oposisi di zaman Soeharto. Tapi Gus Dur tetap menjaga silaturahmi kepada siapapun. Pemikirannya diterapkan ketika Gus Dur menjadi Presiden tahun 1999-2001. Kini pemikiran itu juga diusung Yenny Wahid, putrinya. Ia menjadi pengayom semua golongan masyarakat yang multi kultur.
Pandangan pluralisme Gus Dur itu saat ini sepertinya menjadi mazhab baru yakni politik pluralisme kerakyatan. Orang-orang non muslim sangat setuju dengan pemikiran Gus Dur, karena mereka menjadi merasa ada di dalam bingkai NKRI. Coba saja cek di daerah dimana ummat non muslim lebih menonjol, kebanyakan rakyatnya mengagung-agungkan Gus Dur. Kalau di kalangan santri gak usah ditanya, pasti membela Gus Dur.
Di kalangan mereka justeru berlaku “opo jare Gus Dur, sah.” Maksudnya adalah, apapun yang dikatakan Gus Dur adalah benar adanya, termasuk di dalam ijtihad politiknya. Karena di kalangan nahdliyin, Gus Dur adalah tetesan darah dari Hadratusyaich Hasyim Asy’ary sang pendiri NU, dan Gus Dur selama ini juga dianggap sebagai wali yang memiliki ilmu sangat tinggi. Meski pandangan mata fisiknya terganggu, tetapi secara mata batin dan akal fikirannya mampu membaca apa yang tidak bisa dibaca orang awam. Ramalan-ramalannya relatif banyak benarnya daripada tidak benarnya.
Karena Gus Dur dianggap sebagai wali, maka dalam tradisi NU ada etika santri yang lazim berlaku yakni ta’dzim (hormat) terhadap guru dan keluarganya. Kalau kita menghormati Gus Dur sebagai kyai ataupun wali, maka kita juga harus menghormati anak dan keturunanya. Itulah sebabnya ada panggilan Gus sebagai bagian dari tata krama menghormati anak seorang kyai yang sangat dihormati.
![]() |
| Ilustrasi (Indonesia Times) |
Suara Gusdurian
Maka, jika benar data yang disampaikan Sekretaris DPW PAN Jatim, Basuki Babussalam, bahwa di Jatim terdapat 83 persen Gusdurian, maka pertanyaannya adalah kemana larinya suara mereka pada Pilgub Jatim 2018.
Kita bisa berandai-andai, jika pemikiran di atas benar adanya, dalam arti kebanyakan masyarakat hormat kyai dan anak cucunya, maka Yenny Wahid adalah pilihannya, bukan Gus Ipul, apalagi Khofifah.
Persoalnnya kemudian adalah kemana para kyai berlabuh. Pastinya ini akan menjadi pertarungan yang menarik di antara para kyai. Maka kalau mau fair, jangan ada yang mencoba membeli kyai untuk dukungan politik. Jika itu terjadi maka selesailah sudah kharisma kekyaiannya. Wallahu a’lam.
Syaefurrahman Al-Banjary
Gambar sampul:
1. Yenny Wahid (portal Islam).
2. Prabowo, Yenny Wahid, dan mertua Yenny usai pertemuan 26 Desember 2017 (Posjaya.com).
3. Gusdurian, ilustrasi (Indonesia times).
Sumber : UC News



