Anies Jangan Beri Harapan Palsu Pada Tukang Becak

Becak di Jakarta (Foto: Kompas.com)
Ketika Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan, menyatakan memperbolehkan becak beroperasi kembali di Jakarta, saya yakin yang dimaksud pastilah bukan becak akan berkeliaran di jalan-jalan besar yang sudah padat dengan mobil atau jalan protokol. Paling-paling becak hanya akan beroperasi secara terbatas di lingkungan sekitar komplek perumahan.

Tetapi, hati-hati! Pesan yang ditangkap oleh warga daerah –yang ingin mengadu nasib di Ibukota sebagai tukang becak-- mungkin tidak persis seperti itu. Bagi warga daerah ini, pokoknya becak boleh beroperasi lagi di Jakarta. Mungkin saja mereka membayangkan, becak akan bebas berkeliaran di banyak tempat.

Bayangan ini menimbulkan harapan-harapan baru bagi warga luar Jakarta, yang mungkin memang sedang sulit mencari kerja di daerah asalnya. Maka berbondong-bondonglah mereka datang ke Jakarta dengan membawa becak-becak dalam kondisi baru! Harga becak itu sekitar Rp 1 juta per becak.

Seperti dilansir Tribunnews.com (25/1/2018), warga setempat kaget ketika melihat banyak tukang becak memadati kolong Flyover Bandengan Utara III, Kelurahan Pekojan, Tambora, Jakarta Barat. Mereka datang memakai truk yang mengangkut, sejak dari Rabu malam 24/1/018), dan pada pagi hari para tukang becak itu sudah mangkal. Becak-becak itu didata oleh pihak Dinas Perhubungan dan Satpol PP.

Saya khawatir, pemerintah DKI Jakarta akan kena masalah baru, karena kurang mengantisipasi reaksi para pendatang dari daerah yang mau kerja jadi tukang becak ini. Komplek-komplek perumahan mungkin tidak akan cukup untuk menampung becak-becak ini. Kalaupun ada, yang terjadi adalah over-capacity. Yakni, jumlah becak terlalu banyak dibandingkan jumlah warga setempat yang mau memakai jasanya.

Sekarang adalah zamannya aplikasi Grab, Gojek, dan Uber. Cara memesannya murah dan mudah. Untuk jarak sekian kilometer, saya cukup bayar Rp 10.000. Mengapa saya harus naik becak, dengan membayar ongkos yang sama, hanya untuk jarak beberapa ratus meter saja? Akan banyak becak yang menganggur dan penghasilan tukang becaknya pasti jauh di bawah harapan.

Penghasilan tukang becak dalam kondisi “normal” sekitar Rp 50.000 sampai Rp 60.000 per hari. Tidak besar, jika mengingat biaya hidup di Jakarta. Jika jumlah becaknya terlalu banyak, artinya lebih besar tawaran ketimbang permintaan, penghasilan tukang becak yang sudah kecil ini akan merosot drastis.

Walapun Anies mungkin cuma “salah komunikasi,” dampak ucapannya itu tidak mudah diatasi. Anies akan dianggap memberi harapan palsu pada para tukang becak ini. Mereka pasti akan kecewa. Dan untuk memulangkan mereka ke daerahnya, pastilah butuh biaya lagi.

Becak sudah dilarang di Jakarta sejak 30-an tahun lalu. Wacana populis untuk menghidupkan becak lagi di Jakarta, dikhawatirkan tanpa persiapan matang, dan kurang memperhitungkan dampak susulannya.

Jika makin banyak orang daerah datang mengadu nasib di Jakarta, ini meningkatkan arus urbanisasi ke kota besar. Seharusnya justru pusat-pusat kegiatan ekonomi dihidupkan di daerah, sehingga daerah juga berkembang. ***


Reference
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==